Browse By

Pengaturan LTV untuk Rumah Kedua dan Ketiga Tidak Tepat

Sharing!

Ilustrasi KPR Rumah

Kredit properti kini mulai ketat dengan hadirnya sebuah aturan baru yaitu loan to value atau disingkat LTV. Kebijakan ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Keputusan tersebut dinilai kurang tepat oleh kalangan pengembang jika program ini bertujuan mengurangi investasi maupun spekulasi pasar.

Teguh Satria, selaku Ketua Dewan Kehormatan Real Estate Indonesia (REI), mengatakan bahwa LTV rencananya diturunkan sebagai upaya untuk mengurangi investasi yang sedikit tidak pas. Selain itu, dirinya juga menjelaskan bahwa dari total 35 ribu KPR lebih dari satu, 31 ribunya diantaranya merupakan KPR yang kedua. KPR kedua tersebut bisa untuk keluarga, sedangkan sisanya sekitar 10 % untuk rumah ketiga dan seterusnya.

Hal tersebut dinilai tidak pas karena orang yang sudah terbiasa investasi menggunakan tunai bertahap maupun cash keras, tidak akan melalui proses KPR. Pengembang tentunya akan memberi diskon bagi pembeli tunai.

Kekhawatiran akan potensi terjadinya bubble sangat tidak tepat. Karena rasio kredit property dari kredit nasional, khususnya di Indonesia masih sangat rendah. Dirinya juga menjelaskan bahwa tidak hanya demand yang direm, tetapi suplai juga perlu ditekan.

Hal tersebut sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Pengembang yang menunda pembangunan, menyebabkan berkurangnya suplai di tahun 2008 lalu. Dampaknya adalah terjadinya kenaikan harga. Jika sekarang mengupayakan pengereman lagi, pengembang tersebut akan menununda produksi, sehingga berakibat harga ke depan bahkan akan lebih melambung tinggi

banneracai TANAH WAKAF

Handaka Santosa, selaku Wakil Ketua DPP REI, menilai bahwa pihak Bank Indonesia seharusnya mengupayakan kenaikkan LTV untuk KPR rumah pertama, dibandingkan mengatur KPR kedua dan ketiga serta dapat menaikkannya dari 70% menjadi 80%, sehingga uang mukanya cukup 20 %. Dengan begitu, para pembeli rumah pertama memiliki beban yang lebih ringan. Sedangkan untuk pembeli rumah kedua dan ketiga itu terserah pada kebijakan BI. (chy)

Facebook Comments

Sharing!

%d bloggers like this: