Kesan Pecinta Seni Akan Rumah Adat Tradisional Bali

Bagikan!

Rumah Adat Tradisional Bali (Foto:sigmanews)
Rumah Adat Tradisional Bali (Foto:sigmanews)

Rumah adat tradisional Bali memang memiliki kesan tersendiri bagi para pecinta seni bangunan, karena arsitekturnya merupakan hasil karya yang tercipta dari sebuah kepercayaan, tradisi, dan juga aktifitas spiritual masyarakat Bali. Dari perpaduan ketiga unsur tersebut, diwujudkan dalam suatu bentuk fisik yaitu berupa bangunan seperti tempat suci (pura), rumah adat, balai pertemuan, dan bangunan-bangunan lainnya. Perwujudan ke dalam bentuk fisik ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti budaya, keadaan geografi, adat-istiadat, dan juga sosial ekonomi masyarakat Bali sendiri.

Arsitektur rumah adat tradisional Bali terbagi menjadi dua jika dilihat dari kondisi geografis Bali yaitu Arsitektur Tradisional Bali tinggi yaitu daerah pegunungan dan dataran rendah. Untuk gaya arsitektur rumah adat tradisional Bali di dataran tinggi, biasanya bentuk bangunannya kecil dan tertutup karena faktor lingkungan yang dingin. Selain itu, bangunan juga lebih pendek yang bertujuan untuk mengurangi intensitas sirkulasi udara. Pekarangan juga memiliki ukuran yang tidak terlalu luas dan biasanya tidak beraturan karena menyesuaikan topografi lingkungannya. Selain digunakan sebagai tempat tinggal dan aktifitas sehari-hari, rumah adat tradisional Bali juga biasa digunakan untuk kegiatan upacara.

Pada arsitektur bangunan tradisional Bali di dataran rendah, umumnya memiliki ruangan dengan dinding terbuka dan memiliki fungsi yang beragam. Ruangan yang digunakan sebagai ruang tidur dan untuk menerima tamu penting disebut sebagai bale daja, sedangkan ruangan untuk menerima tamu dari kalangan biasa, disebut sebagai bale dauh. Untuk kegiatan upacara disebut sebagai bale dangin. Selain itu, terdapat ruangan lain seperti dapur, jineng (lumbung padi), dan juga biasanya dilengkapi dengan tempat suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan. Pekarangan di rumah dataran rendah juga memiliki ukuran yang lebih luas. Pekarangan (jaba) rumah keluarga raja dan brahmana terbagi menjadi 3 bagian yaitu jaba tengah, sisi, dan jero. Penggunaan material bangunan juga dapat mencerminkan status sosial dari pemiliknya. Bahan popolan yaitu speci yang terbuat dari lumpur tanah liat untuk bagian dinding, umumnya digunakan oleh keluarga dari kalangan biasa. Material bata digunakan oleh keluarga raja dan brahmana.

Selain bangunan untuk tempat tinggal, bangunan tradisional Bali lainnya yaitu tempat suci untuk pemujaan baik itu milik pribadi maupun kelompok. Tempat suci juga disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing pemiliknya. Untuk kalangan ekonomi menengah keatas menggunakan atap yang berbahan ijuk, sedangkan kalangan ekonomi menengah kebawah menggunakan alang-alang atau genteng. (chy.rj)

Bagikan!

CahiyaCom
  • CahiyaCom
  • Penulis Berita dan Informasi Online Seperti tips, cara dan juga berbagai trik.

Leave a Comment